Selamat Datang ke archipelaGo, ada "website" untuk seluruh Indonesia


back to the
archipelaGo
homepage



Jembatan Jawa-Bali

oleh Kadek Sari

Suatu Negara atau Daerah semakin banyak mendapat kunjungan wisatawan apabila negara atau Daerah tersebut mempunyai potensi yang merupakan daya tarik yang cukup kuat dan disertai pula dengan adanya prasarana dan sarana yang baik sebagai komponen penting dalam usaha promosi yang agresif sehingga mampu merangsang niat wisatawan mengunjungi daerah tersebut.

Begitu pula halnya dengan Bali yang sudah sejak lama dikenal oleh wisatawan manca negara, dalam usaha pembinaan dan pengembangannya memanfaatkan bukan saja unsur kebudayaan sebagai modal utama, tetapi juga unsur-unsur lainnya yang dihubungkan dan dikombinasikan secara harmonis. Tapi yang perlu ditekankan dalam hal ini bahwa yang menjadi modal dasar bagi pengembangan Kepariwisataan Bali adalah Kebudayaan, keramah tamahan masyarakat juga keindahan alam Bali.

Diantara ketiga modal dasar tersebut modal mana yang harus dibina agar dapat berkembang dengan sehat serta dipertahankan nilai-nilai dan ciri-ciri khas dalam kompleks kegiatan kepariwisataan yang berkembang pesat. Tentu saja keindahan alam Bali tidak akan terwujud begitu saja tanpa ada yang melatar belakangi seperti: bentuk-bentuk kehidupan, adat istiadat, agama, seni budaya Bali yang mana, satu sama lain saling mempengaruhi dalam peningkatan mutu keindahannya. untuk mempertahankan kesemua modal dasar yang kita miliki telah dekeluarkan Peraturan Daerah No. 3 Th 1991 tentang "Pariwisata Budaya" yang mengandung pengertian: bahwa jenis kepariwisataan yang dalam perkembangan dan pengembangannya menggunakan kebudayaan Daerah Bali yang didalamnya tersirat satu cita-cita akan adanya hubungan timbal balik antara Pariwisata dan Kebudayaan sehingga keduanya meningkat secara serasi, selaras dan seimbang.

Jadi bersandar pada identitas jenis kepariwisataan di Bali yakni "Pariwisata Budaya" dapat kita kaji dan ambil maknanya bagi rencana Pembangunan Jembatan Jawa-Bali yang bermotivasi untuk peningkatan pariwisata Bali.

Yang kita ketahui bahwa dalam usaha peningkatan kepariwisataan ada unsur penting yang perlu di perhatikan yaitu perlunya mengetahui selera atau keinginan wisatawan sepanjang tidak bertentangan dengan kepribadian bangsa atau daerah.

Faktor penunjang untuk memenuhi selera wisatawan selain menyediakan fasilitas-fasilitas yang memadai seperti: akomodasi yang baik, restauran, angkutan wisata, atraksi atau obyek wisata hal lain yang tak kalah pentingnya adalah: keramah tamahan masyarakat, kebersihan lingkungan, keamanan dan keselamatan wisatawan perlu diperhatikan.

Berbicara mengenai pentingnya perhatian terhadap keramah tamahan masyarakat, kerbersihan lingkungan, keamanan dan keselamatan wisatawan, akan erat sekali hubungannya dengan dampak yang akan timbul dengan dibangunnya Jembatan Jawa-Bali. Di mana dengan dibangunnya Jembatan Jawa-Bali, besar kumungkinan akan terjadi migrasi yang berlebihan dengan adanya fasilitas jembatan yang memperlancar arus lalu lintas Jembatan Jawa-Bali.

Tentu saja antara para migran dengan penduduk lokal akan terjadi suatu persaingan hidup yang tentunya mengakibatkan munculnya berbagai masalah sosial-ekonomi, terutama tindak kriminal yang akan meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya. Dengan hal semacam ini, masihkah Bali bisa dikatagorikan Daerah Tujuan Wisata yang aman dan nyaman untuk berlibur?

Apalagi berdasarkan survei wisatawan asing tahun 1989 bertempat di Bandara Ngurah Rai bahwa motivasi utama kunjungan wisatawan ke Bali adalah untuk berlibur mencari ketenangan dan kenyamanan suasana pedesaan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa:

1. Citra pariwisata Bali akan terancam keasrian, kelestarian dan kenyamanannya, yang merupakan penyebab bagi penurunan selera wisatawan untuk berkunjung ke Bali.

Jadi tujuan peningkatan pariwisata Bali bukan hanya dilihat dari kuantitas wisatawan yang berkunjung melainkan kualitas dan kesinambungannya bagi perkembangan pembangunan di Bali selanjutnya, yang hendaknya tetap mampu melestarikan warisan adat dan budaya serta cermin keramahan penduduknya.

2. Jika pemerintah memang ingin mengatasi terjadinya kemacetan yang sering mewarnai pelabuhan Ketapang _Gilimanuk, pembangunan Jembatan Jawa-Bali bukan satu-satunya alternatif yang bisa diambil. Selama ada Selat Bali yang menghubungkan Jawa dan Bali ditunjang dengan fasilitas transportasi yang memadai, kemacetan tersebut pasti bisa ditanggulangi.

Jadi tanpa Jembatan Jawa-Bali pun pariwisata Bali akan tetap meningkat walau secara perlahan namun pasti, seandainya tetap terjalin kerjasama yang baik antara komponen-komponen pariwisata. Apalagi pemerintah pusat dengan peraturan pemerintah No. 24 th 1979 telah menyerahkan sebagain urusan Pemerintah dalam bidang kepariwisataan kepada Daerah Tk. I menjadi urusan otonomi daerah.

Menyimak uraian saya di atas, semua itu hanyalah sekadar pendapat dari seorang gadis yang tak terpelajar. Saya hanya berusaha memberikan apa yang bisa saya berikan pada Bali-ku yang selama ini telah banyak memberikan kebahagian dalam hidup saya walau dilatari dengan perjuangan hidup yang maksimal.

Yang saya harapkan Bali yang saya cintai ini tetap bisa menampakkan "kecantikannya" yang selalu memikat wisatwan.

Maka akhir kata saya sangat tidak setuju atas rencana pembangunan Jembatan Jawa-Bali. Kalaupun pada akhirnya pemerintah Bali menyetujuinya saya pun tidak ambil pusing.


back to the
archipelaGo
homepage
e-mail to the editor ed@goarchi.com


Copyright 1997 archipelaGo. All rights reserved.